Minggu, 19 Februari 2012

Tanglong

Ki Sulisno

Ratusan perahu berhiaskan lentera semacam lampion hilir mudik di Sungai Martapura Banjarmasin di depan Masjid Sabilal Muhtadin hingga depan kantor lama pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Setiap perahu mengeluarkan musik rekaman maupun dimainkan langsung oleh para pemusik di atas perahu. Suaranya campur aduk di ruang Kota Banjarmasin, meneguhkan bahwa malam itu sedang berlangsung pesta rakyat. Sesekali terdengar suara petasan beserta percikan kembang api di udara. Puluhan ribu orang tumpah ruah di tepi sungai menyaksikan perahu-perahu yang hilir mudik.

Itulah tanglong, parade perahu hias di Kota Banjarmasin yang diselenggarakan setidaknya dua kali dalam setahun, yaitu setiap peringatan Nuzulul Qur’an tanggal 17 bulan Ramadhan dan pada malam perayaan hari Jadi Kota Banjarmasin bulan Agustus.

Sekilas nampak bahwa tanglong mengadopsi budaya Cina. Dari “rasa bahasa” maupun bentuk-bentuk lampion dan ornamen naga sangat terasa sekali nuansa cinanya. sementara nuansa Islam lebih banyak muncul melalui replika Al Qur’an, replika binatang unta dan lagu-lagu yang berbahasa Arab disertai musik yang sebagian besar menggunakan perangkat rebana. Masyarakat Banjar hidup dalam budaya yang bernuansa islam yang begitu kental.

Tanglong masih menjadi magnet luar biasa bagi warga Banjarmasin, terutama bagi kaum muda yang menjadi penonton sekaligus peserta terbanyak. Warga banua, sebutan bagi masyarakat Kalimantan Selatan, tergolong jarang menyaksikan hiburan-hiburan alternatif semacam itu. Masyarakat di mana pun saat ini terus-menerus dijejali hiburan-hiburan produk industri media yang cenderung seragam dan tidak mengakar dalam kehidupan masyarakat. Di Banjarmasin, acara-acara kemasyarakatan seperti acara pernikahan pun diisi orgen tunggal yang menampilkan ulang lagu-lagu produk industri dari Jakarta.

Tanglong jelas berbeda dari sisi bentuk maupun akarnya di tengah masyarakat. Selain menampilkan khasanah budaya setempat, di antaranya permainan musik khas Banjar di atas perahu, tanglong mengajak masyarakat luas untuk melihat kembali dan memanfaatkan potensi alam berupa sungai, baik untuk keperluan transportasi, pariwisata, dan sebagainya. Pendek kata, tanglong berusaha merefleksikan lokalitas budaya masyarakat Banjar.

Ratusan perahu hias peserta karnaval yang mewakili berbagai instansi pemerintah dan swasta, serta produk-produk komersial menunjukkan kebersamaan berbagai elemen masyarakat. Meski masing-masing membawa kepentingan institusinya, akan lebih menarik kalau pesan-pesan yang hendak disampaikan dikemas tidak secara vulgar, tetapi melalui tampilan estetika yang cerdas dan semiotis. Begitu pula ornamen-ornamen yang ditampilkan akan lebih bermakna jika menggunakan bentuk dan simbol-simbol khas Banjar.

Sebagian perahu hias menampilkan bentuk rumah tradisional Banjar dan sebagian lainya menampilkan bentuk yang menarik tapi tidak mengakar, misalnya bentuk kereta api yang dalam keseharian tidak menjadi alat transportasi yang digunakan masyarakat Banjar. Begitu pula bentuk-bentuk binatang darat, misalnya kuda yang rasanya kurang menyatu dengan air jika dipakai sebagai bentuk perahu hias. Naga, yang merupakan binatang mitologi dalam kebudayaan China, juga banyak muncul dalam tanglong. Naga memang banyak dipakai sebagai motif perahu di berbagai daerah. Masyarakat Banjar yang mayoritas muslim justru tidak banyak menampilkan binatang-binatang mitologi Islam, misalnya bouroq yang dinaiki Nabi Muhammad saat Isra mi’raj, atau mitologi lokal Banjar.

Supaya kreatifitas terus tumbuh dan masyarakat tidak bosan, maka setiap tahun tanglong bisa dikemas selalu berbeda, baik tema, konsep penampilan, bahan-bahan yang digunakan hingga bentuk-bentuk tampilan luarnya, bukan saja supaya menarik tetapi juga memberikan kesadaran terhadap masyarakat berbagai persoalan yang dihadapi warga. Misalnya, suatu saat tanglong dikemas dengan tema pemanfaatan sampah-sampah plastik untuk mengingatkan bahwa sampah-sampah plastik saat ini menjadi salah satu ancaman serius bagi lingkungan Banjarmasin.

Yang jelas, tanglong adalah ekspresi budaya masyarakat Banjar yang perlu memberi ruang bagi lahirnya karya-karya kreatif khas Banjar yang merefleksikan berbagai persoalan masyarakat, sekaligus sarana kebersamaan untuk membangun Kota Banjarmasin. Penonton perlu dilibatkan untuk berpartisipasi kreatif menjadi bagian dari acara, dari sekadar menyalakan kembang api maupun ekspresi-ekspresi positif lainnya untuk menghidupkan dan memperindah acara, sekaligus memberi kesadaran dan mengajak melakukan tindakan-tindakan untuk kehidupan bersama.

Tanglong hanyalah salah satu bentuk pesta kebudayaan Banjar yang menggunakan media sungai dan perahu. Bentuk-bentuk karnaval kreatif lain yang tetap berbasis pada kebudayaan air dapat diciptakan secara berkala untuk menambah khasanah budaya urang banua. Sebab masyarakat Banjar pada umumnya tidak lepas dari persoalan air. Menempati rumah-rumah yang dibangun di atas tanah rawa, warga Banjarmasin juga masih banyak yang menggunakan perahu sebagai alat transportasi, melewati ratusan sungai yang begitu hidup.

Tanglong menjadi salah satu penegas kebudayaan air tersebut. Banjarmasin yang dijuluki Kota Seribu Sungai belum cukup hanya memiliki satu ikon pasar terapung. Tanglong dan berbagai festival sungai lainnya akan saling memperkuat julukan itu sekaligus menjadi arah perkembangan Kota Banjarmasin di masa yang akan datang. Ratusan sungai yang ada di Banjarmasin dapat direvitalisasi untuk beragam kepentingan.

Tanglong hanyalah parade seremonial dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an maupun perayaan hari jadi Kota Banjarmasin. Bagaimana agar seremonial tidak terhenti sebagai seremonial yang bermakna pesta, formal, dan sekadar basa-basi. Tanglong akan lebih menarik jika menjadi artefak dan aktivitas riil masyarakat. Oleh karena itu akar tanglong itu sendiri harus ditanam kuat di tengah kebudayaan masyarakat Banjarmasin. Ratusan sungai yang melintas Kota Banjarmasin merupakan potensi yang sangat besar bagi perkembangan pariwisata, transportasi, perikanan, dan potensi-potensi lain yang pada akhirnya akan bermuara pada perbaikan ekonomi. Kota Seribu Sungai adalah brand yang hanya terhenti sebagai slogan kosong jika tanpa tindakan riil ke arah optimalisasi fungsi sungai itu sendiri.

Hampir seluruh kota di dunia berkembang ke arah yang sama. Kita menyaksikan wajah kota yang nyaris seragam. Bangunan-bangunan berbentuk kubus yang menghadap jalan beraspal yang kedua sisinya dipenuhi barisan papan reklame. Tipe kota daratan yang diadopsi dari Barat itu rasanya terlalu dipaksakan jika diterapkan di Banjarmasin.

Saya merindukan dapat menikmati secangkir kopi di warung-warung di atas perahu yang dikemas sedemikian rupa menarik sambil berbincang-bincang dengan para budayawan dan menikmati permainan musik panting di seberang siring sungai Martapura. 

Tulisan ini pernah dimuat Media Kalimantan tanggal 29 September 2011 dengan revisi seperlunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar