Kamis, 05 Januari 2012

Pendidikan Budaya Banjar di Sekolah

Oleh Ki Sulisno, S.Sn., M.A

Masyarakat dunia terpesona dengan karakter orang Jepang saat negeri sakura itu menghadapi bencana gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.Orang Jepang mampu menunjukkan sebagai negara modern yang tetap menjaga nilai-nilai, semangat dan etika tradisi leluhurnya. Karakter itulah yang sesungguhnya membuat mereka bisa cepat mengatasi berbagai bencana alam dan bencana bom atom tahun 1945, sekaligusmengantarkan mereka menjadi bangsa yang diakui keunggulan teknologi dan budayanya.Karakter itu tidak berubah sedikit pun pada saat-saat sulit menghadapi bencana alam yang disertai radiasi nuklir. Sebuah harga diri yang sangat dijunjung tinggi.

Setiap kelompok masyarakat memiliki sistem hidup yang berbeda-beda sesuai dengan konteks lingkungan sosial, alam, cita rasa, pemikiran dan keyakinannya masing-masing. Inilah yang biasa disebut budaya, yang di dalamnya terdapat gagasan, keyakinan, sikap, perilaku, karakter beserta seperangkat nilai yangterbangun melalui endapan-endapan interaksi sosial yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.Masyarakat Jepang memiliki semangat kesatria yang disebut boshido, India dengan prinsip kemandiriannya melalui swadesi. Setiap suku di Indonesia pun memiliki kearifan lokal yang dapat mengangkat harga diri suku bangsa itu, tak terkecuali suku Banjar. Meski budaya Banjar termasuk dalam kategori Melayu tetapi tidak bisa disamakan dengan Melayu di Sumatera dan Malaysia.

Budaya bukanlah sesuatu yang taken for granted, muncul dengan sendirinya. Selalu ada upaya untuk menanamkan dari generasi ke generasi berikutnya. Tidak jarang proses pewarisan ditolak oleh generasi muda karena dianggap budaya lama telah usang, ketinggalan jaman dan kehilangan konteksnya.

Kebudayaan juga bukanlah benda mati yang membeku dalam kotak-kotak tradisi. Jika konteks masyarakat terus berubah sementara sistem hidup tidak mengikutinya maka kebudayaan hanya akan menjadi seremonial yang tidak membumi. Ini bisa kita saksikan pada peristiwa-peristiwa adat yang telah kehilangan konteksnya yang sekadar menjadi souvenir pariwisata.

Tetapi perubahan budaya secara ekstrim juga dapat menimbulkan kegoncangan masyarakat.Karya-karya eksperimental, sikap dan tingkah laku yang di luar kebiasaan cenderung tidak dianggap sebagai bagian dari kebudayaan bersama. Ada pula subcultureyang biasanya muncul dalam bentuk gerakan perlawanan terhadap kebudayaan arus utama.

Tidak ada kebudayaan yang sempurna. Juga tidak ada sistem yang bisa berlaku sepanjang jaman. Karena kebudayaan hidup dalam kelompok masyarakat maka diperlukan pemahaman, kesadaran, sikap kritis, penyesuaian, redefinisi, revitalisasi dan kesepakatan secara terus-menerus sesuai dengan konteks masyarakatnya.

Lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, memiliki peran strategis untuk mewariskan sekaligus mengkritisi dan mengembangkan budaya sesuai dengan jaman. Nilai-nilai sosial dapat ditawarkan sejak anak-anak hingga dewasasebagai wawasan moral untuk bekal hidup di tengah masyarakat sekaligus membentuk karakter mereka.Keberhasilan sebuah pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh hapalan teori dan nilai ijasah. Yang lebih penting dari itu tentu saja adalah bagaimana orang yang keluar dari lembaga pendidikan mampu mengenal lingkungannya, memetakan persoalan yang ada di sekitarnya, lalu mengatasi persoalan tersebut sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Dengan kata lain, orang yang terdidik harus bisa hidup di tengah masyarakat dan berguna bagi perkembangan kemanusiaan dan peradaban.

Prosesnya pun bertahap sesuai dengan tingkatanperkembangan anak itu sendiri. Sejak anak usia dini mulai diperkenalkan budaya lokal melalui dongeng dan permainan tradisional yang biasanya selalu mengandung pesan moral sekaligus memupuk kebersamaan anak-anak. Pendidikan dasar dapat menjadi sarana untuk mengenalkanadat-istiadat masyarakat Banjar, artefak-artefak warisan leluhur beserta nilai-nilai di dalamnya. Pendidikan menengah mulai ditanamkan sikap kritis untuk menilai budaya-budaya yang baik dan tidak baik. Lalu pendidikan tinggi mulai bisa diorientasikan bagaimana mengaktualisasikan, mengkontekstualisasikan dan membangun budaya Banjar pada masa sekarang dan yang akan datang.

Gagalnya pendidikan budaya di sekolah selama ini adalah karena sebatas mengenalkan peninggalan-peninggalan masa lalu: adat-istiadat, bahasa daerah, lagu-lagu daerah,dan sejarah para tokoh yang berujung pada pelestarian dan bahkan pemujaanmasa lalu. Bagaimana membangun budaya masa depan dengan bertolak dari yang sudah ada tidak pernah tersentuh dalam kurikulum sekolah. Semakin tinggi pendidikan formal seseorang juga justru cenderung semakin tercerabut dari akar budaya lokal leluhurnya.

Remaja Banjar dengan anak-anak muda di lain tempat nyaris seragam dalam hal cara berpakaian, gaya bahasa, materi pembicaraan, selera musikhingga orientasi hidupnya yang tidak jauh dari siaran televisidari Jakarta yang tak henti-hentinya mengadopsi budaya Amerika. Anak-anak sekolah arogan dengan sesuatu yang bercirilokal, masa lalu dan tradisi. Pelajaran kesenian dan sastra daerah diremehkan. Ini juga akibat dari sistem pendidikan nasional yang masih berorientasi pada nilai ujian akhir nasional yang tidak pernah memberi perhatian cukup pada budaya lokal.

Pengertian budaya pun sering tereduksi sebatas pada seni dan sastra. Bidang pengetahuan lain semacam ilmu pengetahuan alam, ekonomi, teknologiseolah menjadi disiplin yang bisa berdiri sendiri tanpa perlu tambahan wawasan budaya. Dampak dari pendidikan semacam itu adalah lahirnya manusia-manusia yang memandang masyarakat semata-mata sebagai angka-angka yang bahkan bisa dieksploitasi sedemikian rupa untuk menghasilkan lembaran-lembaran rupiah bagi dirinya sendiri. Pengetahuan pun sekadar menjadi semacam dogma yang tidak membumi.

Salah satu yang menonjol dari masyarakat Banjar adalah religiusitasnya. Agama Islam sebagai agama yang dianut mayoritas pendudukmuncul begitu dominan dalam berbagai simbol kemasyarakatan. Bagaimana agar nilai-nilai Islam yang telah dianggap sebagai bagian dari budaya Banjar bukan sekadar identitas yang sifatnya luar saja, tetapi juga menjadi spirit yang meresap dalam perilaku sehari-hari dalam kegiatan ekonomi, politik, pemerintahan. Menjadi titik tolak ke arah kemajuan sekaligus kebaikan. Spiritual diperlukan di tengah arus jaman yang semakin berorientasi materi dan sesuatu yang sifatnya artifisial. Manusia di desa-desa pun semakin individual. Integrasi sosial terus melemah.

Budaya Banjar masih menjadi sesuatu yang dijalani. Rumah lanting, pasar terapung, baayun dan berbagai budaya Banjar lainnyamasih perlu dikembangkan lagisesuai dengan konteks kekinian. Bukan sekadar untuk pariwisata.Yang lebih pentingadalah bagaimana budaya dapat menjadi wahana masyarakat mengetahui lingkungan alam dan lingkungan sosialnya, menemukan jati dirinya, dan mengatasi berbagai persoalan hidup dengan cara khas orang Banjar sesuai karakter yang dimilikinya.

Tulisan ini dimuat Koran Banjarmasin Post tanggal 4 April 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar